KabarJawa.com – Fenomena Gerhana Bulan Total yang diperkirakan terjadi pada awal Maret 2026 kini mulai menarik perhatian publik.
Dari sudut pandang astronomi, peristiwa ini merupakan kejadian alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah dan selalu dinanti para pengamat langit.
Namun di balik penjelasan sains, masyarakat Jawa memiliki warisan kepercayaan yang telah hidup turun-temurun terkait gerhana.
Dalam tradisi Jawa, gerhana bukan sekadar peristiwa langit yang gelap sementara. Ia kerap dikaitkan dengan pertanda tertentu, terutama bagi perempuan yang sedang mengandung. Hingga kini, sejumlah mitos tersebut masih dipercaya dan dijalankan oleh sebagian masyarakat.
Untuk itu, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut beberapa mitos Jawa tentang gerhana yang tetap bertahan di tengah modernisasi.
Ibu Hamil Harus ‘Ngumpet’ Saat Gerhana
Kepercayaan yang paling sering terdengar adalah anjuran agar ibu hamil bersembunyi ketika gerhana berlangsung. Dalam mitologi Jawa, gerhana dikaitkan dengan sosok Batara Kala yang digambarkan sebagai raksasa pemangsa cahaya bulan.
Perempuan yang tengah mengandung diyakini menjadi sasaran empuk makhluk tersebut. Karena itu, mereka diminta mencari tempat gelap dan tertutup, seperti di bawah meja atau kolong tempat tidur.
Jika larangan ini diabaikan, masyarakat tradisional percaya risiko buruk dapat menimpa janin, mulai dari keguguran, kulit bayi belang, hingga ancaman keselamatan bayi.
Dilarang Keluar Rumah
Selain diminta bersembunyi, ibu hamil juga pantang berada di luar rumah selama gerhana terjadi. Larangan ini masih cukup populer dan kerap diingatkan oleh orang tua kepada anak maupun menantunya yang sedang hamil.
Kepercayaan tersebut menyebutkan bahwa paparan langsung energi gerhana bisa berdampak pada kondisi fisik bayi, seperti kelainan pada wajah atau munculnya tanda lahir tertentu.
Tidak hanya itu, sang ibu juga diyakini dapat mengalami gangguan mendadak seperti pusing, mual, atau sakit kepala apabila tetap beraktivitas di luar rumah saat gerhana.
Menyematkan Peniti sebagai Pelindung
Jika keadaan mendesak dan ibu hamil harus tetap beraktivitas ketika gerhana berlangsung, ada mitos yang menganjurkan penggunaan peniti sebagai perlindungan. Benda kecil dan tajam itu biasanya disematkan di pakaian, tepat di area perut.
Peniti dipercaya berfungsi sebagai pagar gaib yang mampu menangkal pengaruh buruk gerhana. Dalam keyakinan masyarakat tertentu, langkah ini diyakini dapat mencegah gangguan pada janin, termasuk risiko bayi lahir dengan kondisi bibir sumbing.
Mandi dan Keramas Saat Gerhana
Berbeda dengan kepercayaan yang menyarankan untuk berdiam diri, sebagian masyarakat justru memiliki tradisi pembersihan diri saat gerhana terjadi. Ibu hamil dianjurkan untuk mandi sekaligus keramas ketika fase gerhana berlangsung.
Ritual ini diyakini sebagai cara membersihkan diri dari energi negatif yang mungkin menyertai fenomena alam tersebut.
Secara spiritual, air dianggap mampu meluruhkan pengaruh buruk sehingga ibu dan janin tetap berada dalam lindungan keselamatan.
Harus Melakukan Liwetan untuk Menolak Bala
Gerhana juga sering diiringi dengan tradisi liwetan, yakni memasak dan menyantap nasi liwet bersama-sama. Kegiatan ini bukan sekadar makan bersama, melainkan bagian dari ritual tolak bala.
Sebagian masyarakat Jawa kuno mempercayai bahwa saat langit menggelap, makhluk gaib seperti buto ijo berusaha mengganggu atau memangsa janin.
Suasana ramai, aroma masakan, dan kebersamaan dalam liwetan diyakini mampu mengusir roh jahat yang datang bersamaan dengan gerhana.
Berbaring Lurus Tanpa Menekuk Tubuh
Ada pula mitos yang berkaitan dengan posisi tubuh ibu hamil. Selama gerhana berlangsung, mereka dianjurkan tetap berbaring lurus dan tidak menekuk badan.
Kepercayaan ini berangkat dari anggapan bahwa posisi tubuh ibu dapat memengaruhi kondisi fisik bayi kelak. Jika ibu menekuk badan saat gerhana, bayi dipercaya berisiko lahir dengan persendian bengkok atau cacat fisik tertentu.
Mitos Batara Kala Menelan Bulan
Akar dari berbagai pantangan tersebut tak lepas dari cerita tentang Batara Kala. Dalam mitologi Jawa, hilangnya cahaya bulan saat gerhana diyakini terjadi karena Batara Kala menelannya.
Sosok ini disebut sebagai anak dari Batara Guru dan digambarkan sebagai raksasa yang lapar akan cahaya. Konon, dahulu masyarakat memukul lesung atau kentongan secara bertalu-talu dengan harapan suara keras itu membuat Batara Kala ketakutan dan memuntahkan kembali bulan yang ditelannya.
Kepercayaan ini menjelaskan mengapa gerhana sering disertai ritual kolektif di sejumlah daerah. Meski kini ilmu pengetahuan telah memberikan penjelasan rasional tentang gerhana, mitos-mitos tersebut tetap menjadi bagian dari khazanah budaya Jawa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Nah, itulah tadi beberapa mitos Jawa tentang Gerhana yang cukup populer hingga kini.***
Berita Terkini
Berita Terbaru
Daftar Terbaru
News
Jasa Impor China
Berita Terbaru
Flash News
RuangJP
Pemilu
Berita Terkini
Prediksi Bola
Technology
Otomotif
Berita Terbaru
Teknologi
Berita terkini
Berita Pemilu
Berita Teknologi
Hiburan
master Slote
Berita Terkini
Pendidikan
Resep
Jasa Backlink
Slot gacor terpercaya
Anime Batch
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.