KABAR JAWA – Senin, 1 September 2025, ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta berkumpul dalam sebuah forum aksi damai bertajuk “Jogja Menanggil”. Kegiatan ini berlangsung di depan gerbang Universitas Gadjah Mada (UGM) sejak pukul 11.35 WIB, menampilkan suasana yang berbeda dari aksi mahasiswa pada umumnya.
Tidak hanya sekadar menyuarakan tuntutan melalui orasi, mahasiswa juga menghadirkan kesenian tradisional, berbagi konsumsi, hingga melakukan pendampingan akademik di tengah jalannya demonstrasi.
Forum ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyuarakan kegelisahan terhadap kondisi sosial sekaligus menunjukkan cara baru dalam menyampaikan aspirasi secara damai. Aksi dijadwalkan berakhir pukul 13.00 WIB, sebelum dilanjutkan dengan ziarah bersama ke makam Rezha, mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta yang meninggal sehari sebelumnya.
Orasi Bergantian di Panggung Terbuka
Sejak dimulai, panggung orasi terbuka bergantian diisi oleh perwakilan mahasiswa dari berbagai fakultas dan universitas. Setiap orator menyampaikan keresahan mereka terkait isu kebangsaan, kondisi pendidikan, hingga peran generasi muda dalam menjaga demokrasi.
Meski topik yang dibahas sarat dengan kritik, atmosfer aksi tetap terasa damai dan terkendali. Hal ini ditunjukkan dari cara mahasiswa mengatur jalannya kegiatan, memastikan bahwa setiap suara mendapat kesempatan disampaikan tanpa harus memicu kericuhan.
Demo yang Tidak Kering
Uniknya, aksi “Jogja Menanggil” kerap disebut sebagai “demo yang tidak kering”. Sebab, meskipun tidak ada bayaran untuk hadir, peserta tetap mendapatkan minuman dan buah secara gratis dari panitia.
Berbeda dengan stigma negatif bahwa demo identik dengan kerusuhan atau imbalan, forum ini membuktikan bahwa gerakan mahasiswa bisa berlangsung secara mandiri, sehat, dan tetap memberi manfaat bagi pesertanya.
Banyak peserta mengaku senang karena aksi ini tidak hanya memfokuskan diri pada tuntutan politik semata, tetapi juga mengutamakan kebersamaan dan rasa saling peduli.
Didampingi Dosen, Bimbingan Tetap Berjalan
Hal menarik lainnya adalah keberadaan dosen yang ikut mendampingi mahasiswa. Tidak sedikit peserta aksi yang tetap menjalani proses bimbingan akademik sembari mengikuti kegiatan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa aksi mahasiswa tidak selalu berseberangan dengan dunia akademik. Sebaliknya, forum ini menghadirkan contoh sinergi antara dosen dan mahasiswa dalam memperjuangkan suara publik, tanpa harus mengorbankan kewajiban akademik.
“Demo tapi bisa sambil bimbingan, wong didampingi dosen yang UGM,” ungkap salah seorang penonton aksi dengan nada bercanda, menegaskan betapa cair dan egaliternya suasana aksi.
Kesenian Barongan Meriahkan Forum
Selain orasi dan diskusi, peserta aksi juga menampilkan pertunjukan kesenian barongan dari kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sebuah seni tradisional yang sarat makna. Kehadiran kesenian ini menambah warna sekaligus memperkuat identitas budaya lokal dalam forum mahasiswa.
Penampilan barongan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol bahwa gerakan anak muda Yogyakarta tidak terlepas dari akar tradisi. Di tengah teriakan tuntutan, irama musik dan gerakan khas barongan membuat suasana semakin hidup tanpa kehilangan arah perjuangan.

Ziarah sebagai Penutup Aksi
Menjelang pukul 13.00 WIB, forum aksi ditutup dengan ajakan untuk melanjutkan kegiatan melalui ziarah ke makam Rezha, mahasiswa Amikom yang wafat sehari sebelumnya. Agenda ini dipandang sebagai bentuk penghormatan sekaligus refleksi atas perjuangan mahasiswa yang telah lebih dulu pergi.
Bagi peserta aksi, momen ziarah ini menjadi pengingat bahwa setiap perjuangan selalu membawa nilai kemanusiaan yang lebih besar daripada sekadar tuntutan.
Aksi Damai Bernilai Edukatif
Forum “Jogja Menanggil” hari itu berhasil menunjukkan wajah baru gerakan mahasiswa. Aksi bukan hanya ajang protes, melainkan ruang belajar, ruang kebudayaan, dan ruang solidaritas.
Mahasiswa bisa berorasi sekaligus menikmati buah dan minuman, bisa mendengar kesenian barongan sambil tetap fokus pada isu serius, bahkan tetap menjalani bimbingan bersama dosen di lokasi aksi.
Dengan konsep seperti ini, demo tidak lagi identik dengan kerusuhan, melainkan bisa menjadi ajang edukatif, sehat, kreatif, dan penuh solidaritas. Yogyakarta kembali menegaskan dirinya sebagai kota pelajar yang selalu mampu melahirkan cara-cara damai dalam menyampaikan aspirasi publik.
News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door
Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.