KabarJawa.com— Suasana Jumat sore berubah mencekam ketika Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas berbahaya dengan meluncurkan awan panas guguran sejauh satu kilometer.
Fenomena alam tersebut terjadi Jumat, 9 Januari 2026, dan langsung menegaskan bahwa status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
Awan Panas di Jumat Sore
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat awan panas guguran terjadi pada Jumat ini pukul 15.48 WIB.
Material panas meluncur dari puncak Merapi dengan estimasi jarak luncur mencapai 1.000 meter. Aktivitas vulkanik tersebut terekam jelas melalui sensor seismik meskipun kondisi visual tertutup kabut tebal.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menjelaskan bahwa instrumen pemantauan mencatat amplitudo maksimum mencapai 41 milimeter dengan durasi 137,85 detik.
Ia menegaskan bahwa awan panas guguran merupakan indikasi kuat suplai magma masih berlangsung di tubuh Gunung Merapi.
“Data pemantauan menunjukkan aktivitas kegempaan dan guguran masih tinggi. Kondisi ini berpotensi memicu awan panas guguran lanjutan,” ujar Agus Budi Santosa.
Saat peristiwa berlangsung, kabut pekat menutup puncak Gunung Merapi sehingga petugas tidak dapat mengamati luncuran material secara visual.
Namun, arah angin bertiup ke barat laut, sehingga masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap meningkatkan kewaspadaan.
BPPTKG melaporkan bahwa kondisi meteorologi sepanjang periode pengamatan menunjukkan cuaca mendung, dengan suhu udara berkisar antara 21,3 hingga 25,6 derajat Celsius.
Tingkat kelembaban udara mencapai 73,8 hingga 86,3 persen, sementara tekanan udara tercatat antara 873,1 hingga 916,4 mmHg.
Tidak hanya awan panas guguran, Gunung Merapi juga mencatat aktivitas kegempaan yang intens pada Jumat ini.
Selama periode pengamatan 09 Januari 2026 pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, petugas merekam 35 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–28 milimeter dan durasi hingga 165,35 detik.
Selain itu, 24 kali gempa hybrid atau fase banyak juga terekam, menandakan pergerakan magma masih aktif di dalam gunung.
Kondisi tersebut semakin memperkuat alasan penetapan status Siaga yang telah berlaku sejak 5 November 2020.
Wilayah Rawan dan Ancaman Awan Panas Guguran
BPPTKG kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan rawan bencana. Potensi bahaya awan panas guguran dan guguran lava masih mengancam sejumlah sektor.
Pada sektor selatan–barat daya, ancaman meliputi Sungai Boyong hingga 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.
Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya menjangkau Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
BPPTKG juga menegaskan bahwa letusan eksplosif berpotensi melontarkan material vulkanik hingga radius 3 kilometer dari puncak.
Agus Budi Santosa mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan turun di sekitar Gunung Merapi.
Ia juga meminta warga mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik, termasuk pada kesehatan dan aktivitas harian.
“Keselamatan menjadi prioritas utama. Masyarakat wajib mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan,” tegasnya.
Masyarakat dapat memantau perkembangan aktivitas Gunung Merapi secara langsung melalui layanan resmi pemerintah. Informasi terkini tersedia melalui siaran langsung Merapi dan kanal WhatsApp Badan Geologi.
Status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). Pemerintah memastikan akan meninjau ulang status aktivitas apabila terjadi perubahan signifikan berdasarkan data pemantauan terbaru. (ef linangkung)
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.